Beasiswa Dikti Tak Serempak
Tidar 21-Beasiswa Dikti merupakan bantuan tunai dari direktorat jenderal pendidikan tinggi yang berupaya mengalokasikan dana untuk memberikan bantuan biaya pendidikan kepada mahasiswa yang orangtuanya tidak mampu. Dengan catatan, mahasiswa tersebut diberikan kepada mahasiswa yang berprestasi, baik kulikuler maupun ektrakurikuler.
Beasiswa Dikti mempunyai prinsip 3T, yaitu tepat sasaran,tepat jumlah dan tepat waktu.
Tetapi dari prinsip tepat waktu, pada kenyataannya melenceng, .banyak pihak yang merasa ada kesalahan dalam pembagian beasiswa yang tidak serempak. Padahal kita tahu beasiswa sangat meringankan beban mahasiswa jika itu bisa tepat sasaran.
"Memang benar ada ketidakserempakan pembagian beasiswa Dikti dalam PPA ataupun BBM itu sendiri, “ kata Hakim, di biro keuangan.
Read On
MAHASISWA SEBAGAI AKTIVIS DAN AKADEMISI
Aktivis, sebuah kata yang sangat familiar di kalangan mahasiswa. Aktivis adalah seseorang yang aktif dalam sebuah organisasi, yang mengabdikan tenaga dan pikirannya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi yang mereka ikuti.
Bagi sebagian kalangan mahasiswa, menjadi seorang aktivis adalah sebuah kebanggaan. Bahkan seorang mahasiswa terkadang tidak hanya aktif dalam satu atau dua organisai, bisa lebih sesuai dengan minat dan bakatnya. Dengan organisasi, mereka akan terbiasa bekerjasama dengan orang lain, memiliki jiwa kepemimpinan, terbiasa bekerja dengan manajemen yang baik dsb. Mereka mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri, yang sangat dibutuhkan saat mereka memasuki dunia nyata yang tidak mereka dapatkan saat duduk di bangku kuliah.
Lantas apakah menjadi aktivis lebih baik dari seorang akademisi? Di sinilah pola pikir yang salah dari mahasiswa yang umum terjadi. Seorang mahasiswa akan memperoleh nilai tambah ketika mereka ikut aktif dalam suatu organisasi. Apabila mereka bisa lebih mengembangkan potensinya, mereka akan dapat banyak pengalaman bahkan bisa lebih memajukan suatu organisasi.
Mereka tidak hanya menjadi mahasiswa “Kupu-kupu”, yang kerjaannya hanya kuliah-pulang-kuliah-pulang. Tapi setidaknya sedikit lebih baik, yakni mahasiswa “Kura-kura” yang kerjaannya kuliah-rapat-kuliah-rapat. Namun ketika seorang mahasiswa menjadi aktivis, kata “kuliah” seakan-akan hanya sebuah ilusi. Setiap ada kepentingan organisasi, maka mereka akan lebih mengedepankan organisasinya dibanding dengan kuliahnya.
Sementara bagi mereka yang yang bukan aktivis kurang peduli dengan berbagai macam kegiatan di luar jam kuliah. Walaupun tidak semuanya, namun banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai Indeks Prestasi pas-pasan, bahkan jelek karena alasan karena menjadi aktivis organisasi. Para aktivis kadang beranggapan bahwa kuliah tidak boleh mengganggu kegiatan organisasi, sehingga kuliah mereka keteteran. Sementara bagi mereka yang fokus hanya pada kuliah, nilai IP mereka aman-aman saja bahkan memuaskan. Itu bukan pilihan yang salah, namun seperti apa kontribusi mahasiswa yang katanya sebagai “Agen Of Change”, “Iron Stock” dan “Moral Force”?
Sebagai seorang mahasiswa, tentu tujuan utama kuliah adalah kuliah itu sendiri dengan mengembangkan diri di bidang akademik. Walau tak dapat dipungkiri bahwa berorganisasi juga sama pentingnya. Bahkan dengan menjadi seorang aktivis, banyak pengalaman dan kematangan yang akan kita peroleh. Jika mahasiswa hanya bergulat dengan dunia akademik saja, dalam hal ini adalah kuliah tanpa mengembangkan jiwa kepemimpinan, maka akan terjadi ketimpangan kelak saat mahasiwa berbaur di dunia sosial masyarakat. Mereka akan gagap saat menghadapi peristiwa sosial yang terjadi di sekitarnya, karena tidak pernah merasakan kehidupan sebagai seorang aktivis yang lebih sering berbaur dengan lingkungan sekitar.
Bagaimana mungkin akan disebut sebagai aktivis jika kualitas intelektualnya nol. Maka anggapan bahwa organisasi lebih penting dari kuliah maupun sebaliknya harus diminimalisasi bahkan dihapus. Organisasi dan akdemik keduanya saling melengkapi dan sama-sama memiliki peran penting bagi mhasiswa. Harus ditumbuhkan sikap bahwa berorganisasi dan menjadi aktivis itu sangan bermanfaat, tapi jangan lupakan tujuan utama yakni kuliah.
Seperti pepatah mengatakan, “Ilmu tanpa agama adalah buta dan agama tanpa ilmu adalah pincang.” Maka dapat dianalogikan bahwa organisasi tanpa kuliah adalah buta, dan kuliah tanpa organisai adalah pincang.
SELAMAT BERKARYA REKAN-REKANKU MAHASISWA !!!
(Rini_T21)
Read On
166 Mahasiswa Diterjunkan KKN
Tidar 21-Universitas Muhammadiyah Magelang (UMMgl) melepas 166 mahasiswa yang diterjunkan untuk kuliah kerja nyata (KKN) di Aula Rektorat lantai 3. Mereka yang dilepas
Sabtu, 28 September 2013 terdiri dari 93 mahsiswa reguler dan 73 mahasiswa pararel. KKN dengan program "Tematik Posdaya ini" ditempatkan di empat kecamatan, yakni Windusari, Mungkid, Borobudur, dan Salaman.
KKN Posdaya yang dilaksanakan selama 48 hari ini untuk mengaplikasikan dan mengabdikan tentang masalah pengabdian terhadap perguruan tinggi, mengembangkan comonity development
"Termasuk untuk mengimplemasikan kurikulum dan membekali calon sarjana untuk teoristis dalam bermasyarakat," ucap Ketua Panitia Ir Muhammad Aman, M.T
Sementara itu, Sofi, mahasiswa FKIP yang mengikuti KKN, menurutnya program itu sangat baik. Karena tidak terlalu menjuru kepada kebutuhan material masyarakat. Termasuk ada arahan dari Dinas Pertanian dan Industri Kabupaten Magelang.
"Saya sendiri dapat melakukan teori dan praktek ke pada masyarakat yang membutuhkan, seperti apa yang pernah saya dapat dalam studi," ucapnya.
Read On